( Yudi Irawan, Salvionita BR Tarigan, Desi Natalia Sitorus, 2013 ).
Taman
Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli di
kelola dengan system zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, danrekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Taman
Nasional pada setiap negara memegang peranan yang berbeda, tergantung pada keadaan
dan perkembangan sosial ekonomi negara yang bersangkutan serta tergantung pada kekayaan
sumberdaya alam yang dimilikinya. Kriteria suatu wilayah untuk dapat
ditetapkan sebagai kawasan taman nasional harus memiliki sumberdaya alam hayati
dan ekosistem yang khas, unik dan alami, memiliki satu atau beberapa ekosistem
yang masih utuh, mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses
ekologis secara alami dan merupakan wilayah yang dapat dibagi kedalam zona
inti, zona pemanfaatan, zona rimba, dan/atau zona lainnya sesuai dengan
keperluan.
Taman
Nasional Lorentz terkenal dengan Lembah Baliemnya. Taman
Nasional ini menghadapi ancaman pembalakan liar dan pertambangan di daerah
perbatasan. Hingga dekade terakhir, World
Wild Fund for Nature(WWF) terlibat dalam proses penyusunan rencana
pengelolaan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen konservasi dan sistem informasinya.
WWF-Indonesia kini telah membangun kapasitas lokal (masyarakat, pemerintah dan
LSM lokal) untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan penginformasian Lorentz sebagai Taman Nasional. Lorentz
ditunjuk sebagai Taman Nasional pada tahun 1997,sehingga sarana/prasarana untuk
kemudahan pengunjung masih sangat
terbartas dan belum semua objek dan daya tarik alam di kawasan taman nasional
ini teridentifikasi dan dikembangkan.
Taman Nasional Lorentz ini merupakan
Taman Nasional yang terbesar di Asia Tenggara serta merupakan salah satu
diantara tiga kawasan didunia yang mempunyai salju gletser didaerah tropis.Taman
Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap keanekaragaman
hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Letaknya membentang dari puncak gunung
yang di selimuti salju(5.030 mdpl), hingga perairan pesisir pantai dengan hutan
bakau dan batas tepi perairan Laut Arafuru. Di wilayah ini terdapat persediaan
mineral, dan operasi pertambangan berskala besar.

Cara mencapai Taman Nasional
Lorentz, dapat menggunakan pesawat perintis dari Kota Timika menuju bagian
utara Taman Nasional Lorentz yang terletak di Kabupaten Paniai. Selain itu,
dengan menggunakan pesawat perintis, juga dapat terbang ke bagian selatan,
tepatnya ke Kabupaten Merauke. Dari kabupaten ini, pengunjung dapat menggunakan
kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dan dilanjutkan dengan jalan setapak ke
beberapa lokasi.
Di dalam wilayah ini ada terdapat 34
tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan
gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar atau lereng, hutan hujan
pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.
jenis tumbuhannya antara lain nipah, bakau dan lain-lain. Jenis-jenias satwa
yang terdapat di Taman Nasional Lorentz ada sebanyak 630 spesies burung (kurang
lebih 70% dari burung yang ada di papua) dan 123 spesies mamalia.Jenis burung
yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat
megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29
jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju
(Anurophasis monorthonyx).
Taman Nasional Lorentz menyediakan
banyak sekali keindahan dimulai dari pemandangannya, udara, dan aneka ragam
binatang dan tumbuhan yang ada hidup di taman nasional itu. Terdapat banyak
penduduk pedalaman pula yang menetap di taman nasional ini, seperti suku Nduga,
suku Dani Barat, suku Asmat, suku Sempan dan suku Amungme. Tidak hanya hutan
namun ada pula sungai-sungai indah dan pantai pasir karang. Objek wisata ini
sangat menarik perhatian wisatawan yang gemar menjelajahi hutan berpetualang
dan penikmat keindahan alam yang belum terjamah tangan manusia.
Keberlangsungan
keanekaragaman hayati Taman Nasional Lorentz bergantung pada pengelolaan dan sistem
informasi yang diterapkan disana. Sistem informasi diperlukan untuk mendukung
proses perencanaan, pengelolaan, evaluasi
dan pelaporan. Sudah ada sejumlah inisiatif mengenai sistem informasi yang
lebih terpadu dan efektif. Salah satunya adalah Sistem Informasi Area Lindung
(PIKA) milik Direktorat Jenderal Konservasi Hutan, Jejaring Informasi Keanekaragaman
Hayati Nasional milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mekanisme Balai
Kliring milik Kementerian Lingkungan, sistem informasi jejaring LSM (misalnya Pokja
Data Base dari Sarasehan TN) dan GIS nasional di bawah tanggung jawab Badan Koordinasi
Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL).
Masing-masing memiliki fungsi dan perannya sendiri dalam
kerjasama guna meningkatkan kapasitas pengelolaan informasi yang diperlukan. Namun
dalam sistem informasi terdapat juga permasalahan yang mencakup perangkat keras dan lunak,
konektitas basis data secara online yang buruk, kurangnya kecakapan staff, dan minimnya koordinasi.
Tindakan-tindakan
di bawah ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas yang telah ada ( khususnya PIKA yang merupakan
badan kunci yang selama ini mengumpulkan
dan mengelola informasi ruang terkait pengelolaan area lindung), memperkuat jalinan antara berbagai sistem dan memastikan
informasi area lindung masuk ke Mekanisme
Balai Kliring untuk pelaporan tingkat nasional. Untuk itu dibutuhkan pula
peningkatan kapasitas dalam pemetaan area lindung dan sistem informasi.
Tujuan dari sistem informasi sendiri
untuk menciptakan sistem informasi yang secara efektif menangkap, menyimpan dan
mengelola informasi tentang Taman Nasional Lorentz untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan
dan pelaporan.
Daftar Pustaka
Anonim. 2013. Taman Nasional Lorentz. [ terhubung berkala ] http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/wilayah_kerja_kami/lorentznp.cfm. diakses tanggal 19 December 2013 jam 8.56 pm
Christy D. 2011. Wisata Taman Nasional Lorentz. . [
terhubung berkala ] http://cloud.papua.go.id/id/pariwisata/alam/Pages/Wisata-Taman-Nasional-Lorentz.aspx.
diakses tanggal 18 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar